Archive for May, 2010

arti seorang teman

puisi indah dari rendra

Seringkali aku berkata, ketika orang memuji milikku

bahwa sesungguhnya ini hanya titipan

bahwa mobilku hanya titipanNya

bahwa rumahku hanya titipanNya

bahwa hartaku hanya titipanNya

tetapi, mengapa aku tidak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan kepadaku?

untuk apa Dia menitipkan ini padaku?

dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milikNya ini?

adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?

mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh Nya?

ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah,

kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka

kusebut dengan panggilan apa saja yang melukiskan bahwa itu adalah derita

ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku

aku ingin lebih banyak harta, lebih banyak mobil, lebih banyak rumah, lebih banyak popularitas

dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan

seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku

seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika

aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku

kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih

kuminta Dia membalas “perlakuan baikku” dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku

Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah…

ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja…

WS Rendra

jangan todongkan senjata di kepalaku…

Assalamualaikum kawan seperjuangan…apa kabar nih, long time no see.. ^^
ini gw ada dapat sebuah tulisan yang ditulis oleh Romi Satria Wahono. Beliau adalah seorang dosen di suatu perguruan tinggi di Jakarta. Tulisan ini bercerita tentang isi hati seorang dosen terhadap mahasiswa bimbingannya. Tulisan ini mengena banget di gw pribadi yg sekarang juga sedang menyusun tugas akhir (skripsi) yang tentunya berurusan juga dengan dosen pembimbing. Karena sebagai mahasiswa kita (mgkn gw aj kali y ^^) kadang terlalu memaksakan kehendak terhadap dosen pembimbing tanpa mengerti keadaannya beliau sendiri.

silakan dibaca aja, semoga bermanfaat…kata2 “skripsi” dalam tulisan ini telah gw ganti dari kata “tesis” sbg kata aslinya….

***
Jangan Todongkan Senjata di Kepalaku …
by: Romi Satria Wahono

Wahai mahasiswaku …
Wahai pedjoeangku dan pengikut madzab penelitianku …

Aku tahu kelelahanmu dalam mengejar deadline skripsimu
Aku pahami bagaimana penatnya dirimu …
Menatap masalah penelitianmu
Aku juga mengerti gelisahnya hatimu …
Melihat landasan teori dan data penelitianmu

Aku sadari bahwa tak banyak yang bisa aku lakukan untukmu
Tapi yakinlah, aku selalu berusaha mendukungmu
Mengarahkan topik penelitianmu dan memfokuskan pemikiran liarmu
Aku juga sediakan referensi dan literatur ilmiah terbaik untukmu
Termasuk langgankan digital library ACM dan IEEE untukmu

Tak ada yang harus kau balas dari semua dukunganku untukmu

Tapi aku hanya minta sesuatu …
Tolong beri aku waktu yang cukup untuk mereview draft skripsimu
Tolong sinkronkan masalah, tujuan dan kesimpulan penelitianmu
Tolong bebaskan aku dari masalah kesalahan redaksional draft skripsimu

Intinya, tolong rapikan draft skripsimu, sebelum kau bawa padaku
Jangan bebankan padaku masalah pengecekan spelling atau layouting skripsi
Juga penyusunan kalimat atau cara menyusun daftar referensi
Karena itu hanya akan mengurangi fokus otakku
Dan menumpulkan ketajaman review konten pada skripsimu

Aku juga minta tolong …
Jangan pernah jatuhkan masalah kepadaku
Hanya karena buruknya pengaturan waktumu

Terakhir, aku mohon, jangan paksa aku …
Untuk tanda tangan persetujuan skripsimu, tanpa kau pernah bawa hasil revisimu
Karena itu sama saja dengan menodongkan senjata di kepalaku

Wahai mahasiswaku …
Andai kau tahu betapa sayangnya aku padamu
Aku yakin, kau takkan pernah melakukan itu padaku

***

*untuk sahabat2 gw yang sedang berjuangan & berkutat dg penelitiannya….tetap semangat…kesuksesan menanti kita semua…

about teacher

Being a teacher or someone who gives any lessons, was not ever be in my mind. But what happening to me right now is almost totally different. Although I am still a student, what I am doing now is also giving lessons to students. I work currently as a lecturer assistant on my campus. I have a teaching class. I gave a private course recently, and I really enjoy it.

And what I want to tell to you here is that I was just being an elementary teacher today. I stood in front of the class, holding a chalk, talking to the students as well as what my elementary teacher did. I remembered when I was in elementary school, I used to make a noise, being a trouble maker, and so did my classmates.

I understand now why most of teachers (especially elementary teachers) are happy with their job, and why people say that teacher is honorable job. What my teacher feeling was, I can feel it now. Being a teacher must be patient, pleasant, warm-hearted, open-armed, friendly, and home-felt, especially for elementary teachers. Teachers not only teach, but also educate. They give moral lessons to children as the future leaders, that is very influential to their future, that means that is very influential  to the future of nation. They always care and feel happy with children. They are deep involved with children grow.

I still remember about a quote by Mrs.Hara, a great lady who dedicate her retirement for education.

“It’s a joy to see you grow and glow”

*For my teachers, I will always love you…

I gonna miss these things

It has been almost four year since the first time I came to Bogor, to continue my study at this campus. Not too many award that I achieved here, but my life here was so happy with great fabulous friends. At the first year, I stayed in student dorm which consists of various student who came from various district, culture, and religions in Indonesia. I was so lucky to met many kind person at dorm especially my roommates who always had crazy things to do.

I particularly entered to my department since my second year. It was really excited to meet the brilliant students in my class of AGB 43. The circumstance was more competitive. I found my class mates studying hard, being a diligent and keen student.

Now I find myself alone outside of the class. So do my class mates. We now fight for our research to get our bachelor degree.

Actually there are many other (bad) things I found at Dramaga since I came for the first time at IPB until now. And wow, I just realized that I could survive from this hell conditions (extreme weather, traffic jam, angkot ngetem, broken road, home sick, “malnutrition”, and single status)

I gonna miss these things…..

Funny Eskimo

Eskimo: “if I did not know about God and sin, would I go to hell?”

Priest: “No, not if you did not know”

Eskimo: “then why did you tell me?”

(quote by annie dillard)

kehidupan kampus (sebuah lagu oleh Nedi Gampo)

jadi mahasiswa kamari bedo

apolai awak nan bansaik pulo

kiriman dari kampuang acok ndak tibo

bareh lah abih samba tak ado

rokok sabatang diisok balimo

seo rumah talamek ibuk kos marabo

pai kuliah jo paruik kosong

naiak bis kota badan lah oyong

kok ado pitih lai dapek makan lontong

kok sadang bokek tapaso paruik karoncong

sadangkan kawan yang kayo rayo

pai kuliah nyo punyo oto

indak mamikia pitih balanjo

apo taragak nyo tau ado

nyo mintak ciek nan dapek limo

coitu bana sayang rang tuo

jikok di kampus bedo lagaknyo

duduak di kafe kareh suaro

mintak teh talua inyo minta teh boto

mintak nasi goreng mintak nasi soto

awak nan bansaik badan lah litak

pai kuliah basasak-sasak

naik bis kota tapaso tagak

tibo di kampus kaki lah bangkak

masuak ka lokal awak tangangak

caliak di muko pak dosen lah tagak

tampang nyo sadis kapalo colak

sunguik nyo taba co duri landak

coiko bana kehidupan kampus

bakawan diktat bakawan kamus

bagaluik jo teori bagaluik jo rumus

senat mahasiswa nan kadiurus

dosen kok sayang jalan lai mulus

kok dosen berang ujian tak lulus

malang basuo jo dosen killer

bantuaknyo sadis tampangnyo angker

matonyo merah co urang teler

acok ndak lulus ujian semester

tengganglah kami pak oi ibuk dosen

usahlah banci usah sentimen

sadangkan kami alah abih tenggen

latiah seminar langsuang tentamen

badan lah litak utak impoten

amuah den gilo amuah senewen

jadi mahasiswa sabana payah

lah abih pitih biaya kuliah

sampai rang gaek manjua sawah

asakan anak jadi sarjana

jikok di kampus awak basuo

jo cewek rancak hai nyo manih pulo

siang jo malam dimabuak cinto

hati den kanai kabaa juo

disinan hati mako taibo

awak tacinto anak rang kayo

cinto ditulak badan marano

hati den patah kuliah di DO

***

sajak dalam bahasa minang di atas adalah sebuah lirik lagu yang dipopulerkan oleh Nedi Gampo, seorang penyanyi komedian asal Sumatera Barat. Lagu ini bercerita tentang kehidupan (atau ratapan) seorang mahasiswa yang tinggal jauh dari orang tua. Lagu ini populer di Sumatera Barat sekitar akhir tahun 90-an sampai awal 2000-an. Dahulu lagu ini populer identik dengan sebuah lagu yang lucu dan jenaka.

Namun sekarang beberapa hal dalam lagu tersebut benar-benar saya alami sebagai seorang mahasiswa rantau yang jauh dari kampung halaman. Ya, memang tidaklah seperti yang dibayangkan sebelumnya ketika seseorang jauh dari keluarga untuk menuntut ilmu. Diperlukan ada perjuangan lebih untuk bisa sukses. Bahkan tidak sedikit juga mahasiswa yang akhirnya kurang beruntung ketika kuliah jauh dari kampung halaman.

Alhamdulillah, langkahku tinggal sedikit lagi untuk menyelesaikan kuliah ini. Meskipun halangannya tidak sekecil ketika tahun-tahun awal masa perkuliahan, tapi insyaAllah semuanya akan berbuah kebahagiaan…..